Baru seminggu tidak ada pembantu sempat membuat saya pusing. Dua anak saya masih tk dan menjelang play group. Tentu kerepotan saya bukan hanya karena tidak ada yang menemani mereka dirumah ketika saya bekerja, tapi juga mengerjakan pekarjaan rumah tangga sambil 'berkarir' pasti menyita energi yang luar biasa.
Sehari ini saya dirumah saja. Baru setengah hari badan sudah lelah sekali, bukan hanya karena mengerjakan pekerjaan rumah secara fisik seperti menyiapkan sarapan, ngepel, nyapu, beres-beres, dll (Anda tentu dengan mudah bisa membayangkan pekerjaan apa saja itu). Meski capek, banyak sekali hikmah yang bisa saya petik. Lebih menghargai para pembantu rumah tangga, misalnya. Jadi ingat bagaimana Rasulullah saw. adalah orang yang sangat santun pada pembantunya, tidak pernah protes pada apapun hasil kerjaan pembantu. Dan yang tidak kalah pentingnya bahwa menjadi ibu rumah tangga yang well-managed adalah prestasi yang luar biasa tidak ada tandingannya, itulah puncak karir tertinggi yang bisa dicapai seorang wanita. Dalam hal ini level saya masih cetek sekali. Selain saya harus memutar otak, mangatur pekerjaan mana yang sebaiknya dikerjakan dulu, atau mana yang bisa disambi dengan pekerjaan lain, atau mana yang bisa dikerjakan malam, subuh, pagi, siang, dst.. Juga saya harus menjaga stamina supaya fisik saya tetap kuat (awalnya emang lemes ya..tapi lama2 jadi terbiasa juga) karena banyak dari pekerjaan rumah tangga yang mengandalkan fisik. Belum lagi kalau anak2 bermain dirumah, mainannya tersebar dimana-mana, apalagi ketika mereka bereksplorasi..eksplorasi basah pula..waduh benar2 menyita energi dan memancing emosi. Beruntung sekali tadi sore disela2 rehat saya sempatkan nonton acara favorit saya: Super Nanny di metro tv. Kepada klien nya Super Nanny tadi menjelaskan bagaimana mengatur nada suara ketika berbicara kepada anak, ketika marah nada harus biasa, ketika memuji nada malah harus ditinggikan. Alhamdulillah..emosi saya bisa direm menghadapi tingkah polah anak2, mau teriak marah ga jadi... Semakin sore saya jadi semakin tenang menghadapi kegaduhan rumah.
Tibalah saat menyetrika. Menyetrika adalah jenis pekarjaan rumah tangga yang paling saya hindari dari sekian banyak pekerjaan rumah. Akibat ditunda-tunda, setrikaan sudah menggunung (padahal setelah ditunda-tunda akhirnya harus dikerjakan juga...hiks!), mungkin juga akibat salah me-manage waktu sehingga jadi bisa bertumpuk2 bak bukit begini.. Satu persatu saya kerjakan, sampai akhirnya Fauzan manghapiri saya,
"sedang nyetrika ya bun..?" katanya penuh perhatian.
"Bun, apa nih yang bisa aku bantu..?" katanya. Saya baru sadar saat itu; 'Kenapa tidak dari tadi saya libatkan Fauzan sehingga dia juga bisa merasa bangga dengan bisa membantu bundanya.
"Gini aja bang..abang bisa bantu bunda membalik baju2 ini sebelum bunda menyetrika"
Lalu Fauzan dengan segera melakukan apa yang saya minta. Ya itu tadi, akibat tidak terbiasa well-managed, hal sekecil itu tidak sempat terpikir oleh saya, dari tadi saya hanya fokus pada banyaknya pekerjaan, capek, stress, rumah berantakan, sampai2 membuat saya pusiiing.. benar kata suami saya,
"Bunda, kalau ga ada pembantu langsung stress, trus marah2 aja bawaannya.." (hihi..i'm sorry honey...).
Disela-sela menyelesaikan setrikaan yang bertumpuk tadi, saya berceloteh, maksudnya biar Fauzan semangat membantu,
"Aduh..Alhamdulillah..bunda punya mesin pembalik baju yang hebat, cekatan, sholih lagi..jazakallah ya bang.."
"Iya nih, mesin pembalik baju yang dikirim Allah dari surga" kata Fauzan riang.
Bersyukur nya punya anak seperti Fauzan ku...masih lucu..celotehannya masih bisa kami nikmati sebagai hiburan... Kelelahan bekerja seharian jadi hilang, berkeringat akibat nyetrika pun jadi tak terasa, Yah, anggap saja lagi mandi sauna...:)
Senin, 23 Maret 2009
Minggu, 22 Maret 2009
Lisa Vs High Heels
Hari itu pesawat yang kami tumpangi menyentuh landasan di bandara Beijing pada pagi hari. Lelah rasanya, karena saya tidak termasuk orang yang bisa tidur nyenyak di perjalanan. Setelah mengambil bagasi, dan memakai long john untuk menahan hawa dingin winter, kami bergegas keluar menuju ruang tunggu. Menurut informasi, beberapa orang akan menjemput kami.
Setelah menunggu beberapa menit, datanglah tiga laki-laki dan dua wanita warga China. Salah satu dari dua wanita tadi menarik perhatian saya. Sepatunyalah yang membuat saya terkesima. Ya, sepatu. High heels (sepatu hak tinggi) merah menyala nya begitu eye catching, kontras dengan baju casual kombinasi abu-abu – hitam yang dia kenakan. Setelah bersalaman, tahulah saya nama wanita ini, Lisa.
Lisa bernama asli Jiang Sha (betul kata Andrea Hirata bahwa orang china punya dua nama, lokal dan internasional). Lisa bertubuh mungil, rambut lurus sebahu, dan dia sebetulnya berkaca mata minus tapi enggan memakainya karena tidak merasa pede berkacamata (akibatnya Lisa harus memicing-micingkan matanya ketika melihat jauh). Dari caranya berpakaian nampaknya Lisa cukup modis. Warna sepatu, baju, tas dan aksesorisnya sangat matching. Saya memang suka mengamati mode, walaupun untuk pakaian sendiri saya seringkali asal pakai, jauh dari kesan modis, atau tidak pede dan butuh pendapat orang lain seperti adik saya sebagai advisor. Menarik mengamati bagaimana orang bisa begitu kreatif menciptakan mode, menciptakan harmonisasi dalam berpenampilan. Bahkan pakem yang tidak biasapun jadi tampak harmonis ditangan seorang desainer.
Ok, now back to Lisa...
Seminggu saya bersama Lisa, tak seharipun dia menanggalkan high heels nya. Tentu saja warna dan model high heels nya setiap hari berganti-ganti disesuaikan dengan pakaiannya. Padahal di kantornya dia harus naik turun tangga karena ruangannya berada dilantai satu dan ruang meeting ada di lantai tiga. Bahkan diluar waktu kerja, saat menemui kami ketika libur (weekend) sekalipun, tetap saja high heels lah yang menghiasi kakinya. Misalnya saja ketika kami harus berjalan beberapa blok untuk mencapai resto halal, Lisa sebetulnya sudah kelihatan kelelahan dengan high heels nya. Seorang teman saya bertanya: ”Lisa, tidakkah kamu merasa lelah? Tidak kah kamu perlu mengganti sepatumu dengan salah satu dari yang dijual disana” kata teman saya sambil menunjuk toko sepatu kecil yang menjual aneka model sepatu casual yang tentu lebih nyaman dipakai, harganya pun terbilang murah dan pasti terjangkau oleh Lisa yang seorang karyawan menengah di perusahaan besar. Tapi Lisa kurang tertarik, nampaknya. Mungkin modelnya kurang oke kali ya.
Ngomong-ngomong soal High Heels, kabarnya sepatu jenis ini sudah dibuat pada abad IV SM di Turki, dikenal dengan istilah chopine yang beralas datar dan digunakan untuk daerah yang berlumpur. Semakin tebal lumpur, semakin tebal sol sepatu ini. Selanjutnya orang mulai meninggalkan bentuk yang kaku seperti ini, lalu diciptakanlah sepatu yang sol nya rendah di bagian depan dan tinggi di bagian tumit, meskipun peruntukannya tetap sama, yaitu untuk dipakai di tanah berlumpur atau tanah tergenang air, tapi tentu sudah lebih berbau fashion. Lama kelamaan sepatu hak tinggi ini bergeser mengarah kepada fashion. Maka pada tahun 50-an mulailah model high heels pertama yang dikenal dengan model Stiletto yang hak nya mencapai 10 cm dengan ujung hak yang kecil.
Tentu banyak alasan seorang wanita memilih high heels sebagai pelengkap penampilannya. Seorang mantan model kondang misalnya, beralasan "dengan memakai sepatu hak tinggi, saya jadi lebih bisa mengatur langkah dan body language saya". Pernah juga suatu ketika, di angkot saya bertemu seorang wanita berumur menjelang 60 tahun dan mengenakan high heels. Ketika saya tanya mengapa masih memakai sepatu jenis ini, tidak capek kah? Ibu tadi menjawab "saya guru balet, sejak muda sudah terbiasa mengenakan sepatu seperti ini, kalau tidak kaki saya malah pegal-pegal" (duh..segitunya..apa iya yah??). Menggunakan high heels bisa membuat penampilan wanita lebih anggun, bahkan ada yang pendapat bisa meningkatkan gairah seksual perempuan, konon ini berhubungan dengan membaiknya otot pelviks.
Namun, dibalik keindahan penampilan wanita dengan high heels nya ini, sebetulnya banyak sekali penelitian dan pendapat para ahli tentang bahaya atau akibat buruk darinya. Mulai dari mudah terkilir, terpeleset, pemendekan tendon, retak tulang, pengapuran di tulang telapak kaki depan karena trauma kronis yang langsung mengenai tulang akibat menahan beban, resiko kelainan bentuk kaki yang permanen yang perbaikannya memerlukan pembedahan, sampai resiko cedera peradangan sendi terutama pada sendi lutut dan panggul, peradangan ini bisa memicu penyakit kepala yang parah. Nyeri otot betis yang terjadi bertahun-tahun juga bisa berakibat Ischemic (kekurangan oksigen) karena otot terus menerus berkontraksi.
Nah lho..serem juga kan? Tapi aneh memang ya, wanita sering rela menderita dan 'berdarah-darah' demi keindahan penampilan. Wah, asal jangan lupa aja, kalau diluar rumah keindahan jadi perhatian; jangan sampai di dalam rumah malah dasteran melulu sehingga bikin suami kita jadi bete, mana bau bawang lagi, dan ironisnya pembantu dirumah lebih modis daripada majikannya.. Walaah...bisa berbahaya itu!!
Setelah menunggu beberapa menit, datanglah tiga laki-laki dan dua wanita warga China. Salah satu dari dua wanita tadi menarik perhatian saya. Sepatunyalah yang membuat saya terkesima. Ya, sepatu. High heels (sepatu hak tinggi) merah menyala nya begitu eye catching, kontras dengan baju casual kombinasi abu-abu – hitam yang dia kenakan. Setelah bersalaman, tahulah saya nama wanita ini, Lisa.
Lisa bernama asli Jiang Sha (betul kata Andrea Hirata bahwa orang china punya dua nama, lokal dan internasional). Lisa bertubuh mungil, rambut lurus sebahu, dan dia sebetulnya berkaca mata minus tapi enggan memakainya karena tidak merasa pede berkacamata (akibatnya Lisa harus memicing-micingkan matanya ketika melihat jauh). Dari caranya berpakaian nampaknya Lisa cukup modis. Warna sepatu, baju, tas dan aksesorisnya sangat matching. Saya memang suka mengamati mode, walaupun untuk pakaian sendiri saya seringkali asal pakai, jauh dari kesan modis, atau tidak pede dan butuh pendapat orang lain seperti adik saya sebagai advisor. Menarik mengamati bagaimana orang bisa begitu kreatif menciptakan mode, menciptakan harmonisasi dalam berpenampilan. Bahkan pakem yang tidak biasapun jadi tampak harmonis ditangan seorang desainer.
Ok, now back to Lisa...
Seminggu saya bersama Lisa, tak seharipun dia menanggalkan high heels nya. Tentu saja warna dan model high heels nya setiap hari berganti-ganti disesuaikan dengan pakaiannya. Padahal di kantornya dia harus naik turun tangga karena ruangannya berada dilantai satu dan ruang meeting ada di lantai tiga. Bahkan diluar waktu kerja, saat menemui kami ketika libur (weekend) sekalipun, tetap saja high heels lah yang menghiasi kakinya. Misalnya saja ketika kami harus berjalan beberapa blok untuk mencapai resto halal, Lisa sebetulnya sudah kelihatan kelelahan dengan high heels nya. Seorang teman saya bertanya: ”Lisa, tidakkah kamu merasa lelah? Tidak kah kamu perlu mengganti sepatumu dengan salah satu dari yang dijual disana” kata teman saya sambil menunjuk toko sepatu kecil yang menjual aneka model sepatu casual yang tentu lebih nyaman dipakai, harganya pun terbilang murah dan pasti terjangkau oleh Lisa yang seorang karyawan menengah di perusahaan besar. Tapi Lisa kurang tertarik, nampaknya. Mungkin modelnya kurang oke kali ya.
Ngomong-ngomong soal High Heels, kabarnya sepatu jenis ini sudah dibuat pada abad IV SM di Turki, dikenal dengan istilah chopine yang beralas datar dan digunakan untuk daerah yang berlumpur. Semakin tebal lumpur, semakin tebal sol sepatu ini. Selanjutnya orang mulai meninggalkan bentuk yang kaku seperti ini, lalu diciptakanlah sepatu yang sol nya rendah di bagian depan dan tinggi di bagian tumit, meskipun peruntukannya tetap sama, yaitu untuk dipakai di tanah berlumpur atau tanah tergenang air, tapi tentu sudah lebih berbau fashion. Lama kelamaan sepatu hak tinggi ini bergeser mengarah kepada fashion. Maka pada tahun 50-an mulailah model high heels pertama yang dikenal dengan model Stiletto yang hak nya mencapai 10 cm dengan ujung hak yang kecil.
Tentu banyak alasan seorang wanita memilih high heels sebagai pelengkap penampilannya. Seorang mantan model kondang misalnya, beralasan "dengan memakai sepatu hak tinggi, saya jadi lebih bisa mengatur langkah dan body language saya". Pernah juga suatu ketika, di angkot saya bertemu seorang wanita berumur menjelang 60 tahun dan mengenakan high heels. Ketika saya tanya mengapa masih memakai sepatu jenis ini, tidak capek kah? Ibu tadi menjawab "saya guru balet, sejak muda sudah terbiasa mengenakan sepatu seperti ini, kalau tidak kaki saya malah pegal-pegal" (duh..segitunya..apa iya yah??). Menggunakan high heels bisa membuat penampilan wanita lebih anggun, bahkan ada yang pendapat bisa meningkatkan gairah seksual perempuan, konon ini berhubungan dengan membaiknya otot pelviks.
Namun, dibalik keindahan penampilan wanita dengan high heels nya ini, sebetulnya banyak sekali penelitian dan pendapat para ahli tentang bahaya atau akibat buruk darinya. Mulai dari mudah terkilir, terpeleset, pemendekan tendon, retak tulang, pengapuran di tulang telapak kaki depan karena trauma kronis yang langsung mengenai tulang akibat menahan beban, resiko kelainan bentuk kaki yang permanen yang perbaikannya memerlukan pembedahan, sampai resiko cedera peradangan sendi terutama pada sendi lutut dan panggul, peradangan ini bisa memicu penyakit kepala yang parah. Nyeri otot betis yang terjadi bertahun-tahun juga bisa berakibat Ischemic (kekurangan oksigen) karena otot terus menerus berkontraksi.
Nah lho..serem juga kan? Tapi aneh memang ya, wanita sering rela menderita dan 'berdarah-darah' demi keindahan penampilan. Wah, asal jangan lupa aja, kalau diluar rumah keindahan jadi perhatian; jangan sampai di dalam rumah malah dasteran melulu sehingga bikin suami kita jadi bete, mana bau bawang lagi, dan ironisnya pembantu dirumah lebih modis daripada majikannya.. Walaah...bisa berbahaya itu!!
Rabu, 25 Februari 2009
Dua (istri) Belum Cukup
“Assalaamu’alaikum, sisters” begitu Jolly (baca: Jali) menyapa, ketika dia menjumpai kami di Manila. Ini adalah kali ketiga saya bertemu dengannya. Hari itu Jolly datang menemui kami bersama temannya, Eddy. Keduanya bekerja pada Islamic Da’wah Council of The Philippine (IDCP).
Senang rasanya berjumpa kembali dengan saudara muslim di belahan bumi lain. Kedua lelaki ini masih muda. Jolly seorang yang ramah dan murah senyum, berbahasa inggris cukup fasih, sehingga waktu pertemuan yang hanya sehari berisi cerita tentang banyak hal: tentang keluarganya, tentang muslim di philippina, tentang beberapa kata dalam bahasa philippina yang mirip dengan bahasa Indonesia, dan banyak hal lain.
Tantang muslim di philippina, Jolly bercerita suka duka menjadi kaum minoritas. Membuat saya harus banyak bersyukur hidup sebagai mayoritas di negeri ini. Muslim philippina terbanyak berasal dari wilayah Mindanao, bagian selatan philippina. Jumlah mereka yang sedikit (sekitar 10%) berdampak pada keterbatasan mereka dalam beberapa hal. Sebut saja dalam hal pendidikan agama. Pendidikan agama mereka dapatkan dari sekolah tambahan semacam madrasah, yang biasanya terletak disekitar masjid, yang jumlahnya juga tentu terbatas.
Keterbatasan lain yang tidak kalah pentingnya adalah soal makanan. Tentu sulit menemukan makanan halal di philippina, ada beberapa resto halal (pemiliknya muslim, dan hewan disembelih secara Islam), misalnya restoran Hossein, yang sering dikunjungi dubes-dubes Indonesia, Brunei, dan Malaysia untuk menjamu tamu-tamunya. Sempat juga kami mencicipi makan di resto ini, yang menunya serba kari: ayam kari, kambing kari, daging sapi kari, sampai ikan kari. Di banyak tempat memang resto halal/muslim asosiatif sekali dengan masakan jenis kari. Ada juga resto lain yang mengklaim halal, namun maksudnya adalah tidak ada menu babi disana. Untuk resto jenis ini menu seafood atau vegetable dapat kita pilih. Membawa bekal makanan dari rumah ketika beraktifitas diluar, merupakan pilihan bagi sebagian muslim di philippina.
Sambil menikmati santap siang dari resto Hossein, perbincangan kami terus berlanjut. Jolly yang baru berusia 26 yahun ternyata sudah menikah, saya tidak mengira, pertama: karena dia tampak masih muda, wajahnya banyak senyum layaknya perjaka yang selalu tebar pesona, dan kedua: karena dia tadi sempat menanyakan kabar seorang teman saya yang dia kira masih single. Ketika Jolly menceritakan tentang populasi muslim philippina yang pertumbuhannya menurut dia lambat, sempat membuat saya tergelitik untuk berkomentar: “Wah, kalau begitu, mungkin bagi muslim philippina bagus juga kalau berpoligami terutama untuk yang mampu melakukannya, supaya populasi kalian bisa bertambah”
Nah, yang tidak saya sangka-sangka adalah jawaban Jolly: “O..kalau itu saya sudah melakukannya, sister.., istri saya ada dua, kami serumah tapi beda kamar. Saya masih mau menambah istri dua lagi, satu dari Indonesia dan satu lagi dari Malaysia...”
Sambil melanjutkan santap siang, saya cuma bisa senyum-senyum saja, ingin rasanya saya menggeleng-gelengkan kepala sambil berkomentar: “Jolly...jolly..ada-ada saja kamu... Ternyata dua istri belum cukup ya....”.***
Senang rasanya berjumpa kembali dengan saudara muslim di belahan bumi lain. Kedua lelaki ini masih muda. Jolly seorang yang ramah dan murah senyum, berbahasa inggris cukup fasih, sehingga waktu pertemuan yang hanya sehari berisi cerita tentang banyak hal: tentang keluarganya, tentang muslim di philippina, tentang beberapa kata dalam bahasa philippina yang mirip dengan bahasa Indonesia, dan banyak hal lain.
Tantang muslim di philippina, Jolly bercerita suka duka menjadi kaum minoritas. Membuat saya harus banyak bersyukur hidup sebagai mayoritas di negeri ini. Muslim philippina terbanyak berasal dari wilayah Mindanao, bagian selatan philippina. Jumlah mereka yang sedikit (sekitar 10%) berdampak pada keterbatasan mereka dalam beberapa hal. Sebut saja dalam hal pendidikan agama. Pendidikan agama mereka dapatkan dari sekolah tambahan semacam madrasah, yang biasanya terletak disekitar masjid, yang jumlahnya juga tentu terbatas.
Keterbatasan lain yang tidak kalah pentingnya adalah soal makanan. Tentu sulit menemukan makanan halal di philippina, ada beberapa resto halal (pemiliknya muslim, dan hewan disembelih secara Islam), misalnya restoran Hossein, yang sering dikunjungi dubes-dubes Indonesia, Brunei, dan Malaysia untuk menjamu tamu-tamunya. Sempat juga kami mencicipi makan di resto ini, yang menunya serba kari: ayam kari, kambing kari, daging sapi kari, sampai ikan kari. Di banyak tempat memang resto halal/muslim asosiatif sekali dengan masakan jenis kari. Ada juga resto lain yang mengklaim halal, namun maksudnya adalah tidak ada menu babi disana. Untuk resto jenis ini menu seafood atau vegetable dapat kita pilih. Membawa bekal makanan dari rumah ketika beraktifitas diluar, merupakan pilihan bagi sebagian muslim di philippina.
Sambil menikmati santap siang dari resto Hossein, perbincangan kami terus berlanjut. Jolly yang baru berusia 26 yahun ternyata sudah menikah, saya tidak mengira, pertama: karena dia tampak masih muda, wajahnya banyak senyum layaknya perjaka yang selalu tebar pesona, dan kedua: karena dia tadi sempat menanyakan kabar seorang teman saya yang dia kira masih single. Ketika Jolly menceritakan tentang populasi muslim philippina yang pertumbuhannya menurut dia lambat, sempat membuat saya tergelitik untuk berkomentar: “Wah, kalau begitu, mungkin bagi muslim philippina bagus juga kalau berpoligami terutama untuk yang mampu melakukannya, supaya populasi kalian bisa bertambah”
Nah, yang tidak saya sangka-sangka adalah jawaban Jolly: “O..kalau itu saya sudah melakukannya, sister.., istri saya ada dua, kami serumah tapi beda kamar. Saya masih mau menambah istri dua lagi, satu dari Indonesia dan satu lagi dari Malaysia...”
Sambil melanjutkan santap siang, saya cuma bisa senyum-senyum saja, ingin rasanya saya menggeleng-gelengkan kepala sambil berkomentar: “Jolly...jolly..ada-ada saja kamu... Ternyata dua istri belum cukup ya....”.***
Cita-cita Fauzan
Fauzan (6) atau biasa dipanggil Abang adalah anak saya yang besar. Sepulang sekolah (TK B) dia biasanya bermain bersama adiknya Fadhil (3,5) yang belum mau sekolah. Kegemarannya adalah membaca buku, mainan, main puzzle, nonton TV (curious george is the best!) atau CD dan yang utama menggambar. Hal yang paling disukainya adalah segala hal tentang kendaraan; mobil, kereta api, pesawat, apalagi bis.
Bis bagi fauzan adalah kendaraan yang sangat mengagumkan, sejak bis pertama yang dia miliki ketika masih kecil, khayalannya selalu saja tentang bis. Sangat excited kalau lihat bis lewat di jalan raya. Karena kami tinggal di Bogor, Bis Trans Pakuan - yang ber AC tapi panas itu – adalah yang paling sering dia naiki. Kemana-mana kalau bisa maunya naik bis; ke Bandung, ke Bekasi, bahkan “Bun… bisa ga nanti kalau kita ke rumah Oma di Padang naik bis aja..?”.
Di dalam bis dia dan adiknya jarang duduk, maunya berdiri sambil meneriaki bis lain yang lewat “Biiiiss….!!”. Awalnya kami malu juga, seolah bis adalah benda aneh yang belum pernah dilihatnya. ”Bang...yang teriak2 liat bis tuh biasanya orang kampung, yang ga pernah ke kota...” kata ayahnya. Tapi bagi fauzan yang polos komentar ayahnya itu tentu saja ga ngaruh... Ketika menggambar juga kebanyakan bis dan pesawat, sedikit kereta. Bahkan di komputer dia punya file sendiri yang isinya daftar nama2 bis, dan akan dia tambah daftarnya ketika dia ingat atau baru menemukan nama bis lain yang belum terdaftar.
Cita-cita fauzan awalnya ingin jadi pilot, tapi ketika dia lihat di TV berita tentang Adam Air yang jatuh, dia berubah pikiran. ”Bun...aku ga mau jadi pilot ah, nanti bisa jatuh kayak pesawat adam air itu, aku mau jadi supir bis aja ya!”. Tentu saja awalnya kami kaget juga ‘duh, anak kita kok cita2nya ga keren amat ya…’ Setiap dia bicara tentang cita2nya itu biasanya kami timpali “Jadi supir bis itu ga perlu sekolah tinggi2 bang…ga perlu pintar…cita2nya yang lain aja ya..” .
Suatu ketika saya pernah Tanya “abang kalo ditanya bu guru cita2nya, jawabnya supir bis juga?”“Ngga.. Aku jawab aja jadi pilot biar bu guru seneng..padahal aku sebenernya pingin jadi supir bis..”Masya Allah..anakku jadi berbohong demi menyenangkan gurunya, juga mungkin demi menjaga imej ortunya.. ternyata komentar2 bernada keberatan dari kami soal cita2nya itu menimbulkan ide untuk berbohong. Jadi agak nyesel juga, kenapa kami selama ini begitu serius menanggapi cita2nya, padahal cita2 anak kan biasanya berubah seiring bertambahnya usia.
Kini setiap fauzan bilang soal cita2nya saya cuma senyum saja sambil berkata,”Ya, tapi tetap belajar yang baik ya..karena belajar itu wajib bagi anak sholeh. Pokoknya pesan bunda, cita-cita apa saja boleh, yang penting profesi kita itu bisa bermanfaat untuk orang lain””Oh..ya udah. Kalo gitu aku mau jadi insinyur pembuat pesawat atau pembuat bis aja deh, ”. Abang...abang...cabe deh bundanya... Bis lagi..bis lagi..
Bis bagi fauzan adalah kendaraan yang sangat mengagumkan, sejak bis pertama yang dia miliki ketika masih kecil, khayalannya selalu saja tentang bis. Sangat excited kalau lihat bis lewat di jalan raya. Karena kami tinggal di Bogor, Bis Trans Pakuan - yang ber AC tapi panas itu – adalah yang paling sering dia naiki. Kemana-mana kalau bisa maunya naik bis; ke Bandung, ke Bekasi, bahkan “Bun… bisa ga nanti kalau kita ke rumah Oma di Padang naik bis aja..?”.
Di dalam bis dia dan adiknya jarang duduk, maunya berdiri sambil meneriaki bis lain yang lewat “Biiiiss….!!”. Awalnya kami malu juga, seolah bis adalah benda aneh yang belum pernah dilihatnya. ”Bang...yang teriak2 liat bis tuh biasanya orang kampung, yang ga pernah ke kota...” kata ayahnya. Tapi bagi fauzan yang polos komentar ayahnya itu tentu saja ga ngaruh... Ketika menggambar juga kebanyakan bis dan pesawat, sedikit kereta. Bahkan di komputer dia punya file sendiri yang isinya daftar nama2 bis, dan akan dia tambah daftarnya ketika dia ingat atau baru menemukan nama bis lain yang belum terdaftar.
Cita-cita fauzan awalnya ingin jadi pilot, tapi ketika dia lihat di TV berita tentang Adam Air yang jatuh, dia berubah pikiran. ”Bun...aku ga mau jadi pilot ah, nanti bisa jatuh kayak pesawat adam air itu, aku mau jadi supir bis aja ya!”. Tentu saja awalnya kami kaget juga ‘duh, anak kita kok cita2nya ga keren amat ya…’ Setiap dia bicara tentang cita2nya itu biasanya kami timpali “Jadi supir bis itu ga perlu sekolah tinggi2 bang…ga perlu pintar…cita2nya yang lain aja ya..” .
Suatu ketika saya pernah Tanya “abang kalo ditanya bu guru cita2nya, jawabnya supir bis juga?”“Ngga.. Aku jawab aja jadi pilot biar bu guru seneng..padahal aku sebenernya pingin jadi supir bis..”Masya Allah..anakku jadi berbohong demi menyenangkan gurunya, juga mungkin demi menjaga imej ortunya.. ternyata komentar2 bernada keberatan dari kami soal cita2nya itu menimbulkan ide untuk berbohong. Jadi agak nyesel juga, kenapa kami selama ini begitu serius menanggapi cita2nya, padahal cita2 anak kan biasanya berubah seiring bertambahnya usia.
Kini setiap fauzan bilang soal cita2nya saya cuma senyum saja sambil berkata,”Ya, tapi tetap belajar yang baik ya..karena belajar itu wajib bagi anak sholeh. Pokoknya pesan bunda, cita-cita apa saja boleh, yang penting profesi kita itu bisa bermanfaat untuk orang lain””Oh..ya udah. Kalo gitu aku mau jadi insinyur pembuat pesawat atau pembuat bis aja deh, ”. Abang...abang...cabe deh bundanya... Bis lagi..bis lagi..
Langganan:
Postingan (Atom)
