Sabtu, 02 Mei 2009

HARTA, WANITA DAN TAHTA

“Dunia ini panggung sandiwara
Ceritanya mudah berubah
Ada peran wajar, ada peran berpura-pura..
Mengapa kita bersandiwara…”

Menyaksikan kehidupan, seperti menonton panggung sandiwara. Meskipun begitu banyak telah Allah buka aib2 anak manusia untuk menjadi pelajaran bagi manusia lain, selalu saja orang lupa. Selalu saja lupa bahwa seseorang bisa kehilangan harga dirinya karena Harta, Wanita dan Tahta. Ketika perbuatan dosa itu mereka lakukan sedikit demi sedikit, lama kelamaan tidak lagi peka nuraninya, melakukannya menjadi hal yang biasa saja. Mereka kira bisa dengan mudahnya menipu manusia, menghilangkan jejak2 perbuatan dosa dan kejahatan. Mereka kira Allah sedang tidur.

Mereka yang haus kekuasaan, merasa dengan mudahnya ’membeli’ kekuasaan dengan uang, atau melakukan intrik2 untuk melancarkan jalannya menuju kursi itu, dari mulai merekayasa, menyuap, sampai memfitnah. Mereka kira jabatan atau kursi itu bisa memuliakannya. Mereka tidak sadar, atau tidak tau, atau tidak mau tau, bahwa berkuasa menuntut pertanggungjawaban yang maha berat. Ketika jabatan itu tidak didapatnya, akibatnya menjadi stres, depresi, bahkan gila.

Koruptor berpikir, mereka kira bisa dengan mudahnya sekedar mencari2 peluang ‘mencuri’ atau ‘membelanjakan’ harta yang bukan haknya, atau menyembunyikan jejak keberadaan harta haramnya.

Ada pula yang disinyalir menjadi dalang pembunuhan yang dipicu skandal asmara segitiga, pembunuhannya konon bernilai 2 miliar. Mereka kira bisa dengan gampangnya ‘berselingkuh’ atau ‘menelikung’ dibelakang manusia. Yang paling menyedihkan, bila sinyalir ini terbukti, yang bersangkutan bakal satu atap dengan para koruptor yang sudah lebih dulu dijebloskannya ke penjara. Sungguh ironis.

Menyaksikan sandiwara anak manusia,
Ada intrik, ada adu domba, ada sogok-menyogok, ada saling tuduh, ada saling fitnah..

Menyedihkan. Memprihatinkan. Mereka mungkin bisa saja menipu manusia. Menyajikan sandiwara heroik yang membuat kita terkagum-kagum.

Tapi mereka lupa bahwa Allah tidak pernah tidur.

*****